Sketsamalang.com, MALANG – Permainan tradisional seperti engklek, bentengan, dan kucing-kucingan kembali diperkenalkan sebagai alternatif pembelajaran anak usia dini di tengah kebiasaan Generasi Alpha menggunakan gawai. Selain menyenangkan, permainan tersebut dapat membantu anak mengembangkan kemampuan motorik, sosial, dan komunikasi.
Upaya tersebut dilakukan Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Pengurus Cabang Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, melalui pertemuan rutin bertema “Permainan Tradisional di Era Gen Alpha” di Pendopo Agung Putro Purwo, Jalan Saxophone Nomor 1, Kelurahan Tunggulwulung, Selasa (27/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 10.00–13.00 WIB ini menjadi ruang belajar bagi para pendidik PAUD untuk mengenal kembali permainan tradisional sekaligus mempelajari penerapannya dalam proses pembelajaran sesuai usia dan karakteristik anak.
Ketua HIMPAUDI Kecamatan Lowokwaru, Monica Mariana, S.H., S.Psi., mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan kembali kekayaan permainan tradisional kepada anak-anak melalui peran guru PAUD.
Menurutnya, pelestarian permainan tradisional tidak cukup hanya dengan memperkenalkan nama dan jenis permainan. Guru juga perlu memahami cara bermain, aturan, serta kemungkinan modifikasi agar sesuai dengan kebutuhan pembelajaran anak masa kini.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan lima jenis permainan tradisional yang dipilih dari sekitar 165 permainan yang dikuasai narasumber dolanan tradisional, Mbah Jo.
Permainan tersebut dipilih karena dinilai belum banyak dikenal atau dialami oleh para guru PAUD generasi sekarang.
“Harapan utama kami, permainan ini nantinya bisa diteruskan kepada anak-anak. Guru-guru dapat mempraktikkannya di lembaga PAUD masing-masing, sehingga anak-anak kembali memiliki ruang bermain bersama, belajar bersosialisasi, dan mengenal kekayaan budaya tradisional kita,” ujar Monica.

Pembelajaran Anak Tidak Harus Selalu di Dalam Kelas
Ketua Pengurus Daerah (PD) HIMPAUDI Kota Malang, Maisaroh, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi inisiatif HIMPAUDI Lowokwaru. Menurutnya, permainan tradisional dapat memperkaya metode pembelajaran sekaligus menjadi alternatif aktivitas anak di tengah kebiasaan menggunakan gawai.
Ia menilai pembelajaran anak usia dini tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas dengan buku dan alat tulis. Anak juga membutuhkan kesempatan untuk bergerak, bermain, berinteraksi, serta melatih kemampuan motorik melalui kegiatan yang sesuai dengan tahap perkembangannya.
Maisaroh mencontohkan penerapan permainan tradisional di lembaga PAUD tempatnya mengajar. Anak-anak diajak bermain engklek, bentengan, hingga kucing-kucingan di halaman sekolah.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa permainan yang dahulu akrab dengan kehidupan anak-anak tetap dapat menarik minat generasi sekarang apabila diperkenalkan dengan cara yang tepat.
“Anak-anak ternyata juga asyik bermain permainan tradisional. Selama di sekolah, mereka tidak memegang HP sama sekali, dan terbukti mereka tetap bisa menikmati kegiatan bermain,” jelasnya.
Maisaroh juga menyoroti kebiasaan sebagian orang tua memberikan gawai kepada anak agar lebih tenang ketika berada di rumah. Menurutnya, kondisi tersebut perlu disikapi melalui komunikasi dan kerja sama antara sekolah dan keluarga.
Sekolah, kata dia, dapat menyamakan persepsi dengan orang tua sejak awal tahun ajaran melalui penjelasan visi, misi, serta program pembelajaran. Dengan demikian, stimulasi perkembangan anak tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga berlanjut di rumah.
“Untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, tidak cukup hanya dengan HP. Harus ada sinergi antara orang tua dan sekolah agar anak mendapatkan stimulasi yang tepat,” tegasnya.
Ia berharap gerakan pengenalan permainan tradisional tidak berhenti di Kecamatan Lowokwaru, tetapi juga menginspirasi HIMPAUDI di kecamatan lain di Kota Malang untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih aktif dan menyenangkan.
Untuk memberikan pengalaman nyata, HIMPAUDI Lowokwaru menghadirkan Mbah Jo dan Nyai Kembang, budayawan sekaligus praktisi kesenian dan permainan tradisional.
Setelah pemaparan materi, peserta dibagi menjadi lima kelompok. Setiap kelompok mendapat kesempatan mempraktikkan atau memperagakan permainan tradisional dengan pendampingan narasumber.
Metode praktik ini diharapkan membantu guru memahami permainan secara langsung sehingga lebih mudah menerapkannya dalam kegiatan belajar di lembaga PAUD masing-masing.
Melalui permainan bersama, anak dapat belajar mengikuti aturan, menunggu giliran, bekerja sama, berkomunikasi, serta mengembangkan koordinasi gerak. Pada saat yang sama, permainan tradisional membuka ruang bagi anak untuk mengenal warisan budaya melalui pengalaman langsung, bukan sekadar cerita.
Mbah Jo juga berharap semakin banyak pihak terlibat dalam mendokumentasikan permainan tradisional, baik melalui video maupun media sosial. Dokumentasi tersebut penting untuk merekam jenis permainan, aturan, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya agar tidak hilang seiring perubahan zaman.
Ia membuka peluang kolaborasi dengan masyarakat maupun pihak lain untuk berbagi pengalaman, konten, dan data mengenai permainan tradisional.
“Kalau ada rekan-rekan yang berkenan bekerja sama, berbagi konten dan data, saya sangat senang. Harapannya, permainan tradisional ini bisa terus dikenal, dipelajari, dan dilestarikan,” ungkapnya.
Pertemuan yang diikuti para pendidik PAUD tersebut diawali dengan tembang macapat, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars HIMPAUDI, sambutan, serta doa bersama. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi dan praktik permainan tradisional.
Melalui kegiatan ini, HIMPAUDI Lowokwaru mendorong guru menjadi penghubung antara kekayaan budaya lokal dan kebutuhan belajar anak masa kini. Permainan tradisional diharapkan tidak hanya menjadi kenangan generasi terdahulu, tetapi kembali hadir dalam keseharian anak sebagai sarana belajar, bergerak, bersosialisasi, dan mengenal budaya bangsa.







