Sketsamalang.com, MALANG — Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM), dr. Ruby Riana Asparini, Sp.BP-RE (K), meraih penghargaan nasional melalui penelitian yang mengkaji potensi pangan lokal untuk mendukung pencegahan kelainan kraniofasial.
Dokter spesialis bedah plastik tersebut meraih 3rd Winner Research Presentation dalam 29th Annual Scientific Meeting of InaPRAS (Indonesian Association of Plastic Reconstructive and Aesthetic Surgeons) 2026 yang digelar pada 3–5 September 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali.
Dalam forum ilmiah yang mempertemukan para ahli bedah plastik rekonstruksi dan estetik itu, Ruby mempresentasikan penelitian berjudul “From Local Foods to Craniofacial Prevention: Integrated Evidence on Mung Bean and Tempeh Flour for Maternal-Fetal Folate and Vitamin B12 Improvement in a Phenytoin-Exposed Mouse Model.”
Penelitian tersebut mengkaji potensi tepung kacang hijau dan tempe dalam mendukung peningkatan kadar folat serta vitamin B12 pada kondisi kehamilan yang mengalami paparan fenitoin melalui model penelitian hewan.
Ruby menjelaskan, penelitian itu berangkat dari fokus keilmuannya pada cleft lip and palate atau celah bibir dan langit-langit. Selama ini, penanganan kelainan tersebut banyak dilakukan setelah bayi lahir. Namun, ia bersama tim mencoba memperluas pendekatan dengan meneliti kemungkinan pencegahan sejak masa kehamilan.
“Dari memperbaiki kelainan setelah lahir, kami mencoba bergerak lebih dulu menuju penelitian pencegahan,” jelasnya.

Penelitian yang mulai dikembangkan sejak 2022 itu dilakukan melalui kolaborasi dosen, mahasiswa, dan tim peneliti. Tahapan penelitian diawali dengan kajian literatur, kemudian dilanjutkan eksperimen menggunakan mencit bunting yang mendapat paparan fenitoin.
Tim kemudian mengukur kadar folat dan vitamin B12 pada kompartemen maternal dan fetal. Hasil dari berbagai tahapan tersebut selanjutnya diintegrasikan menjadi satu naskah ilmiah.
Dari penelitian tersebut, terdapat tiga temuan utama. Tepung kacang hijau menunjukkan relevansi paling kuat terhadap peningkatan folat, terutama pada kompartemen fetal. Sementara itu, tepung tempe menunjukkan respons paling jelas terhadap peningkatan vitamin B12 pada kompartemen maternal maupun fetal.
Adapun kombinasi tepung kacang hijau dan tempe memberikan cakupan perbaikan biomarker maternal-fetal yang paling luas.
“Jadi temuannya, kacang hijau terutama mendukung folat, tempe terutama mendukung vitamin B12, dan kombinasi keduanya memberikan respons maternal-fetal yang paling luas,” tambahnya.
Penelitian tersebut menjadi menarik karena mengangkat pendekatan berbasis pangan lokal yang dekat dengan masyarakat Indonesia. Kajian itu juga menghubungkan bidang bedah rekonstruksi dengan upaya pencegahan primer terhadap kelainan kraniofasial.
Ruby menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses penelitian hingga akhirnya memperoleh penghargaan dalam forum ilmiah nasional tersebut.
“Terima kasih untuk seluruh pihak. Penghargaan ini adalah hasil proses bersama dosen, mahasiswa, tim penelitian, dan lingkungan akademik FK UMM,” ungkapnya.
Ke depan, penelitian akan dikembangkan dengan memperkuat bukti biologis melalui pengamatan morfologi kraniofasial, biomarker seperti homosistein dan metilasi, mekanisme transfer melalui plasenta, serta standardisasi kandungan nutrien dan dosis.
“Target akhirnya bukan sekadar memenangkan presentasi, tetapi menghasilkan jalur penelitian yang memberi manfaat nyata bagi pencegahan dan pelayanan cleft,” tutupnya.







