Sketsamalang.com – Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) menggelar Expo Inovasi Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M) dengan menampilkan 57 karya teknologi tepat guna (TTG) hasil inovasi mahasiswa. Seluruh inovasi tersebut akan diserahkan kepada 57 kelurahan sebagai solusi atas berbagai persoalan lingkungan, pengelolaan sampah, hingga pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dekan FTAB UB, Prof. Yusuf Hendrawan, S.TP., M.App.Life.Sc., Ph.D., mengatakan program ini merupakan upaya mengembalikan jati diri FTAB sebagai fakultas yang berfokus pada rekayasa dan pengembangan teknologi tepat guna yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Sebanyak 57 kelompok mahasiswa menghasilkan karya inovasi teknologi tepat guna yang akan kami serahkan kepada 57 kelurahan. Ini merupakan hasil kerja mahasiswa sekaligus upaya mengembalikan fitrah FTAB sebagai fakultas yang memiliki kekhasan dalam rekayasa rancang bangun produk teknologi tepat guna,” ujar Yusuf.
Menurutnya, kampus harus hadir sebagai pusat solusi bagi persoalan masyarakat melalui inovasi yang aplikatif.
“Kami ingin kampus menjadi wadah yang secara khusus melayani berbagai persoalan masyarakat melalui teknologi tepat guna,” katanya.

Prof. Yusuf menjelaskan, karakter permasalahan masyarakat perkotaan berbeda dengan wilayah pedesaan. Berdasarkan hasil survei mahasiswa di Kota Malang, persoalan yang paling dominan adalah pengelolaan limbah dan sampah.
Karena itu, sebagian besar inovasi yang dikembangkan mahasiswa berfokus pada teknologi pengolahan lingkungan, seperti alat pengolah sampah plastik dan biokomposter.
Selain itu, mahasiswa juga menciptakan berbagai alat pendukung UMKM, terutama untuk pengolahan pangan, agroindustri, serta kebutuhan produksi masyarakat.
“Mayoritas inovasi yang dihasilkan berkaitan dengan lingkungan, seperti pengolahan sampah plastik dan biokomposter. Ada juga berbagai alat untuk mendukung pengembangan UMKM dan pengolahan pangan,” jelasnya.
Seluruh inovasi tersebut saat ini masih dalam proses pengajuan luaran akademik, termasuk publikasi ilmiah, hak paten, hingga penyusunan buku.
Program Mahasiswa Membangun Mitra merupakan mata kuliah berbobot 6 SKS, setara dengan skripsi. Sejak Mei 2026, mahasiswa telah melakukan survei lapangan, mengidentifikasi persoalan di masyarakat, hingga merancang dan membuat teknologi yang sesuai dengan kebutuhan warga.
Meski demikian, pelaksanaan program tidak lepas dari berbagai tantangan. Yusuf menyebut mahasiswa berasal dari latar belakang budaya yang beragam sehingga memerlukan kemampuan komunikasi yang baik saat berinteraksi dengan masyarakat.
Selain itu, keterbatasan anggaran membuat setiap kelurahan hanya menerima satu unit teknologi tepat guna, padahal kebutuhan masyarakat sangat beragam.
“Permasalahan di masyarakat cukup banyak, mulai dari lingkungan hingga UMKM. Namun saat ini kami baru mampu memberikan satu alat teknologi tepat guna untuk setiap kelurahan,” ujarnya.
Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UB, Prof. Dr. Unti Ludigdo, S.E., M.Si., Ak., menegaskan bahwa program ini sejalan dengan komitmen Universitas Brawijaya dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, inovasi yang ditampilkan mungkin terlihat sederhana, tetapi seluruhnya lahir melalui proses riset dan kajian ilmiah.
“Yang tampak sederhana ini sebenarnya merupakan hasil penelitian dan proses inovasi. Kami berharap masyarakat maupun pemerintah kelurahan dapat memanfaatkan hasil karya dosen dan mahasiswa ini secara optimal,” katanya.
UB juga berencana mengembangkan (scale up) berbagai inovasi yang dinilai memiliki potensi besar untuk diterapkan lebih luas, khususnya dalam meningkatkan kualitas lingkungan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat.
Selain penyerahan alat, UB juga menyiapkan pendampingan kepada masyarakat agar teknologi yang diberikan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Prof. Unti menegaskan setiap produk yang disalurkan harus memiliki mekanisme purna hibah, mulai dari pelatihan pengoperasian, cara perawatan, hingga prosedur perbaikan apabila terjadi kerusakan.
“Kami memastikan masyarakat mengetahui cara mengoperasikan alat, bagaimana memperbaikinya jika mengalami kerusakan, dan ke mana harus menghubungi apabila membutuhkan bantuan. Semua informasi itu akan disampaikan oleh dosen dan mahasiswa kepada kelompok sasaran di setiap kelurahan,” ujarnya.
Melalui Program Mahasiswa Membangun Mitra, FTAB UB berharap hasil riset kampus tidak hanya menjadi luaran akademik, tetapi juga mampu menjadi solusi konkret bagi persoalan masyarakat sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di tingkat kelurahan.






